Tacca palmata

Tacca palmata
freelance

Jumat, 06 Agustus 2010

BAB I
PENDAHULUAN


1.1 Tujuan Praktikum
  • Mengetahui faktor-faktor internal dan eksternal yang mempengaruhi proses pertumbuhan dan perkembangan pada perkecambahan.
  • Mengetahui perbedaan pertumbuhan dan perkembangan pada kecambah.
  • Membandingkan laju pertumbuhan kecambah pada perlakuan kertas gulung dan di atas baskom.

1.2 Tinjauan Pustaka
Perkecambahan merupakan permulaan kembali pertumbuhan tumbuhan embrio di dalam biji. Yang diperlukannnya ialah suhu yang cocok, banyaknya air yang memadai dan persediaan oksigen yang cukup. Terbuka terhadap cahaya untuk waktu yang sesuai juga merupakan persyaratan bagi perkecambahan untuk beberapa kasus. Biji-biji beberapa tumbuhan yang terdapat di tempat-tempat berawa hanya akan berkecambah setelah lama terkena cahaya matahari. Sebaliknya, perkecambahan biji tumbuhan gurun pasir tertentu justru terhalang kalau terlalu lama terkena cahaya. Periode dormansi juga merupakan persyaratan bagi perkecambahan banyak biji.
a. Plumula terdiri atas dua daun embriotik, yang akan menjadi daun-daun sejati yang pertama tumbuhan bibit, dan tunas terminal (apikal). Tunas ini ialah meristem dan padanyalah akat terjadi pertumbuhan batang yang selanjutnya.
b. Hipokotil dan radikula yang masing-masing akan tumbuh menjadi batang dan akar primer.
c. Satu atau dua kotiledon, yang menyimpan makanan untuk digunakan biji yang berkecambah. Angiosperma yang membentuk biji dengan dua kotiledon disebut dikot, sedangkan yang hanya membentuk satu kotiledon disebut monokot (Kimball, 1983).
Bagi banyak orang perkecambahan sebuah biji menandakan permulaan kehidupan, akan tetapi pada kenyataannya biji itu sudah mengandung tumbuhan ukuran-miniatur, lengkap dengan akar dan tunas embrionik. Pada perkecambahan tumbuhan tidak memulai kehidupan akan tetapi meneruskan pertumbuhan dan perkembangan secara temporer dihentikan ketika biji menjadi dewasa dan embrionya menjadi tidak aktif. Beberapa biji berkecambah segera setelah mereka berada dalam lingkungan yang sesuai. Biji jenis lain bersifat dorman dan tidak akan berkecambah, meskipun disemaikan dalam tempat yang menguntungkan, sampai petunjuk lingkungan tertentu menyebabkan biji mengakhiri keadaan dormansi tersebut. Lama waktu dimana biji dorman masih hidup dan mampu berkecambah bervariasi dari beberapa hari hingga beberapa dekade atau lebih lama lagi, bergantung pada spesies dan kondisi lingkungan. Tanah memiliki kumpulan biji yang belum berkecambah yang kemungkinan telah tertumpuk selama beberapa bertahun (Campbell, 2003).
Pada kondisi pertumbuhan yang cocok, satu biji yang muda akan berkecambah dan menghasilkan satu tumbuhan muda atau kecambah. Gejala luar pertama dari perkecambahan adalah pecahnya testa di daerah mikropil dan dari situ muncul radikula yang kemudian menancap ke tanah dan tancapan menjadi kuat dengan munculnya rambut akar. Pada waktu yang bersamaan ketika radikula timbul, mulailah pertumbuhan aktif pada bagian embrio lainnya. Jika bagian aktif tumbuhan ini adalah hipokotil, plumula dan kotiledon yang masih terbungkus testa akan terangkat ke atas permukaan tanah dan kotiledon itu akan segera mengembang sebagai struktur daun pertama. Seringkali kotiledon itu berubah menjadi hijau dan berfungsi sebagai daun yang berfotosintesis, kotiledon kecambah yang besar tampak seperti daun sejati. Pada beberapa biji tanpa endosperma, misalnya kacang buncis (Phaseolus vulgaris), kotiledonya terisi penuh dengan cadangan makanan yang tersimpan, sehingga pada waktu cadangan ini habis, kecambah telah cukup pertumbuhannnya, sehingga dapat berdiri sendiri dan kotiledon ini layu serta rontok. Tipe perkecambahan yang epikotilnya memanjang dikatakan sebagai perkecambahan epigeal sebab kotiledonnya terangkat ke atas permukaan tanah. Perkecambahan kacang Uci (Vigna unguiculata), jarak dan labu adalah contoh dari perkecambahan kacang epigeal. Sebaliknya, jika bagian yang tumbuh aktif ketika radikula muncul ialah epikotil yaitu poros batang dari plumula yang berada di atas kotiledon tetap berada di dalam tanah. Sebelum plumula mencapai permukaan tanah, kotiledon membungkuk ke bawah seperti satu kail, sehingga meristem pucuknya yang rapuh itu terarah ke bawah dan terlindung dari gesekan dengan partikel tanah. Ketika sampai dipermukaan tanah, plumula itu meluruskan diri dan tumbuh menjadi pucuk. Kotiledonnya mengerut ketika kandungan makanannya habis. Tipe perkecambahan yang epikotilnya memanjang disebut hipogeal.

Fisiologi Perkecambahan
Yang pertama-tama diperlukan untuk memulai tumbuh bagi kebanyakan biji adalah tersedianya air. Biji menyerap air dengan cara imbibisi dan akibatnya bagian isi kaloid yang kering akan memperoleh air kembali. Hal ini pada dasarnya sama dengan apa yang terjadi jika air diberikan kepada sayur yang dikeringkan dalam sop yang terbungkus. Imbibisi diikuti dengan membengkaknya biji dan terjadi tanpa memandang apakah biji itu masih hidup atau tidak. Sebagai akibat dari air yang diserapnya gaya yang besar, sampai 2000 bar, dapat berkembang dalam biji yang kering. Ketika lebih banyak air memasuki biji dengan cara imbibisi, tenaga imbibisi untuk menyerap air akan berkurang, tetapi sel-sel yang telah terhidrasi memiliki gaya osmosis yang memudahkan penyerapan air lebih lanjut. Akhirnya jaringan kembali ke ukuran semula dan bentuk semula seperti sebelum biji mengering selama pematangan dan organisasi struktural sel kembali seperti semula.
Metabolisme aktif kini dimulai, dan hal ini ditunjukkan oleh peningkatan kecepatan respirasi yang mendadak dan sintesis protein, yang kedua-duanya berkaitan dengan hidrasi enzim-enzim yang ada. Jika tumbuhan embrio yang berada di dalam biji melanjutkan pertumbuhannya, embrio ini perlu membentuk suatu sistem perakaran penyerap dan sistem pucuk untuk fotosintesis, sehingga embrio itu dapat berdiri sendiri. Untuk mencapai tujuan ini poros embrio memerlukan bahan makanan untuk melaksanakan respirasi aktif dan untuk mensintesis protoplasma dan dinding sel baru. Dalam tahap yang sangat awal, sebelum jelas kelihatan tanda-tanda perkecambahan, poros embrio memiliki bahan yang cukup dalam tubuhnya untuk memenuhi keperluannya yang segera. Pada butir-butir serealia, misalnya, embrionya berisi sukrosa, protein cadangan dan lipid.
Cadangan makanan ini yang tak dapat larut harus di ubah menjadi bahan yang dapat larut sebelum diangkut ke bagian-bagian pertumbuhan dan kecambah yang masih sangat muda itu. Hal ini dilaksanakan dengan cara sintesis dan tindakan selanjutnya dari enzim-enzim hidrolisis seperti amilase yang merubah pati menjadi gula, protease yang merombak protein menjadi asam amino, nuklease yang menghidrolisis asam nukleat menjadi nukleotida dan lipase yang memecah lemak menjadi gliserol dan asam lemak. Tipe mekanisme pengatur yang melaksanakan mobilisasi pegaturan cadangan biji akan diuraikan dengan mengacu kepada butir barlei (Hordeum distichon) yang perkecambahannya telah dipelajari secara ekstensif daripada perkecambahan biji-biji lainnya, karena mendasari proses peragian (malting proces) pada pembuatan bir di daerah iklim sedang. Selama perkecambahan normal pembentukan hidrolase oleh sel-sel aleuron dirangsang oleh embrio. Jika embrio dikeluarkan, sel aleuron gagal membentuk hidrolase. Kini diketahui bahwa isyarat dari embrio yang menginstruksikan sel aleuron untuk menghasilkan enzim aktif hormon pertumbuhan yang disebut asam giberelat. Pengaturan hormonal mengenai pengerahan makanan cadangan sangat disederhanakan. Telah diketahui bahwa poros embrio dan skutelum mulai mensintesis asam giberelat pada permulaan perkecambahan dan asam giberelat itu bergerak ke lapisan aleuron melalui jaringan pembuluh yang terdiferensiasi dari embrio dan skutelum (Loveless, 1999).
Perkecambahan biji tergantung pada imbibisi, penyerapan air akibat potensial air yang rendah pada biji yang kering. Air yang berimbibisi menyebabkan biji mengembang dan memecahkan kulit pembungkusnya dan memicu perubahan metabolik pada embrio yang menyebabkan biji tersebut melanjutkan perubahan. Enzim-enzim akan mulai mencerna bahan-bahan yang disimpan pada endosperma atau kotiledon, dan nutrien-nutriennya dipindahkan ke bagian embrio yang sedang tumbuh. Organ pertama yang muncul dari biji yang berkecambah adalah radikula, yaitu akar embrionik. Berikutnya ujung tunas harus menembus permukaan tanah. Pada kacang ladang dan banyak tumbuhan dikotil lainnya, hipokotil akan berbentuk seperti suatu kait, dan pertumbuhan akan mendorong kait itu ke atas permukaan tanah. Dirangsang oleh cahaya, hipokotil akan tumbuh lurus, mengangkat kotiledon dan epikotil. Dengan demikian, ujung tunas yang lembut dan kotiledon yang sangat besar itu ditarik ke atas permukaan tanah, bukan didorong oleh ujungnya melalui tanah yang abrasif. Sekarang epikotil menyebarkan helai daun pertamanya, yang mengembang, menjadi hijau dan mulai membuat makanan melalui fotosintesis. Kotiledon akan layu dan rontok dari biji karena cadangan makanannya telah dihabiskan oleh embrio yang berkecambah itu. Cahaya kelihatannya merupakan petunjuk utama yang memberitahu benih bahwa ia telah menembus tanah. Kita dapat menipu biji kacang sehingga biji tersebut bertingkah laku seolah-olah ia masih tetap terkubur dengan cara mengencambahkan biji dalam kegelapan. Perkecambahan suatu biji tumbuhan, seperti kelahiran atau penetasan seekor hewan, merupakan tahapan kritis dalam siklus hidup. Biji yang keras akan menghasilkan suatu benih yang sangat rentan yang akan terpapar pada pemangsa, parasit, angin dan bahaya lainnya. Pada kehidupan liar, hanya sebagian kecil dari benih yang dapat bertahan cukup lama untuk menjadi dewasa. Produksi biji dan buah dalam jumlah besar adalah kompensasi terhadap rintangan dalam kelangsungan hidup individu dan memberikan cukup bahan bagi seleksi alam untuk menyeleksi kombinasi genetik yang paling berhasil. Namun demikian, ini merupakan cara reproduksi yang sangat mahal ditinjau dari sumber daya yang dikonsumsi dalam proses pembentukan bunga dan buah. Reproduksi aseksual, yang umumnya lebih sederhana dan kurang berbahaya bagi keturunan dibandingkan dengan reproduksi seksual, merupakan suatu cara alternatif untuk perbanyakan pertumbuhan (Campbell, 2003).

Jumat, 11 Juni 2010

mikrobiologi ( pewarnaan)

PENDAHULUAN

 

 

1.1  Latar Belakang

Bakteri merupakan organisme yang memiliki morfologi bentuk tubuh dasar yang pada umumnya mirip satu sama lain dengan struktur tambahan yang berbeda-beda. Sel bakteri jika diamati dengan mata biasa sangatlah sulit karena ukurunnya yang sangat mikroskopik, untuk itu digunakan mikroskop untuk membantu dalam  mengamati morfologi dan mengidentifikasinya.

Jika dibuat preparat ulas tanpa pewarnaan, sel bakteri sulit terlihat karena bentuk selnya yang transparan dan bermacam-macam. Bakteri juga memiliki sifat yang dapat diabsorbsi oleh zat-zat tertentu. Dalam laboratorium mikrobiologi sifat-sifat tersebut digunakan untuk mengamati bakteri, karena sifat yang dapat menyerap suatu zat yang bersifat asam atau basa yang dapat memberikan suatu warna baik itu pada sel bakteri ataupun pada latar belakang dari bakteri tersebut.

Pewarnaan dalam kegiatan identifikasi bakteri bertujuan untuk memperjelas sel bakteri dengan menempelkan zat warna ke permukaan sel bakteri. Zat warna dapat mengabsorbsi dan membiaskan cahaya, sehingga kontras sel bakteri dengan sekelilingnya ditingkatkan. Di mana zat warna tersebut dapat memberikan muatan negatif atau positif.  Contoh zat warna asam antara lain Crystal Violet, Methylene Blue, Safranin, Base Fuchsin, dan Malachite Green. Sedangkan zat warna basa sebagai contoh antara lain Eosin dan Congo Red .

Berdasarkan hal di atas maka, dilakukanlah percobaan ini untuk mengetahui dari bagaimana cara kerja dari suatu zat warna dan sifatnya pada suatu bakteri.

 

1.2  Tujuan Praktikum

1.        Mengatahui tujuan dari pewarnaan bakteri.

2.        Mengetahui bentuk morfologi dari bakteri yang telah diwarnai dengan zat warna.

3.        Mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi dari perwarnaan bakteri.

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

 

 

Mikroorganisme yang tidak diwarnai umumnya tampak transparan bila diamati dengan mikroskop cahaya biasa. Hal ini karena sitoplasma sel mikroba memiliki indeks bias hampir sama dengan indeks bias lingkungannya yang bersifat cair dan mikroba tidak mengadsorbsi atau membiaskan cahaya.

Pada umumnya zat warna yang digunakan adalah senyawa-senyawa garam yang salah satu ionnya berwarna. Garam terdiri dari ion bermuatan positif dan ion yang bermuatan negatif. Sel-sel bakteri mempunyai muatan yang agak negatif bila pH lingkungannya mendekati netral. Muatan negatif dari sel bakteri akan bergabung dengan muatan positif dari ion zat warna, misalnya methylen blue, sehingga hasilnya sel tersebut akan berwarna. Prosedur pewarnaan yang menghasilkan pewarnaan mikroba dinamakan perwarnaan positif. Dalam prosedur ini dapat digunakan zat warna basa yang bermuatan positif maupun zat warna yang bermuatan negatif. Zat warna atau zat biologi adalah persenyawaan organik yang mempunyai gugus cromofor dan gugusan auxocrom yang berikatan dalam suatu cicin benzena. Gugus cromofor merupakan gugusan yang dapat memberikan warna pada molekul cat, sedangkan auxocrom adalah zat yang dapat memberikan disosiasi elektrolit-elektrolit pada molekul cat sehingga cat bersifat lebih mudah bereaksi (Waluyo, 2008).

Perwarnaan sederhana merupakan pemberian warna pada bakteri atau jasad-jasad renik lain dengan menggunakan larutan tunggal suatu pewarna pada lapisan tipis, atau olesan yang sudah difiksasi. Pewarnaan diferensial merupakan teknik dari prosedur pewarnaan yang menampilkan perbedaan di antara sel-sel mikroba. Dengan teknik ini biasanya digunakan lebih dari satu larutan zat pewarna atau reagen pewarnaan.

Pewarnaan gram merupakan salah satu teknik pewarnaan diferensial yang paling penting dan paling luas digunakan untuk bakteri ialah pewarnaan gram. Bakteri yang diwarnai dengan metode gram ini dibagi menjadi 2 kelompok: salah satu di antaranya bakteri gram positif, mempertahankan zat pewarna Kristal violet dan karenanya tampak ungu tua. Gram negatif kehilangan Kristal violet ketika dicuci dengan alkohol, dan sewaktu diberi pewarnaan tandingan dengan merah safranin, tampak merah (Dwidjoseputro, 1981).  

Organisme penyebab gastroenteritis (Enterokolitis)

1)      Bakteri Gram Positif

a.       Staphylococcus aereus

Selnya berbentuk bola dengan garis tengah 0,8-leam tersusun dalam kelompok-kelompok tidak teratur. Di bawah pengaruh zat-zat kimia tertentu (misalnya penicillin) kuman ini berubah bentuk menjadi L, tetapi kuman tidak dipengaruhi oleh garam-garam empedu atau optokin. Kuman ini bersifat koogulasi positif, berwarna kuning, bersifat hemolisa positif dan meragikan manitol.

b.      Bacillus cereus

Bakteri ini termasuk batang besar, gram positif, membentuk rantai, membentuk spora, dapat tumbuh pada makanan dan menghasilkan enterotoksin yang menyebabkan kracunan makanan.

2)      Bakteri Gram Negatif

Escherichia coli

Bakteri ini berbentuk batang gram negative yang dapat membentuk rantai, jarang membentuk spora. Pada umumnya tidak dapat memproduksi H2S, tetapi beberapa strain mendapatkan plasmid dari Salmonella sehingga mampu memproduksi gas ini. Sporanya mudah dirusak oleh panas, germisida dan disinfektan pada konsentrasi rendah. Mempunyai sejumlah fimbrae atau pili sebagai alat melekat pada host (Budiyanto, 2002).

Perwarnaan sel pada mikroorganisme pada umumnya menggunakan lebih dari satu macam zat warna. Hasil pewarnaan tergantung beberapa faktor antara lain:

1.        Fiksasi

Sebelum mikroorganisme, khususnya bakteri diwarnai harus dilakukan fiksasi terlebih dahulu. Cara yang paling banyak digunakan adalah cara fisik dengan pemansan  atau dengan freeze drying atau dapat juga dilakukan fiksasi dengan melakukan agensia kimia. Agen kimia yang sering digunakan antara lain sabun, fenol, dan formalin.

Cara fiksasi yang paling banyak digunakan dalam pewarnaan bakteri adalah dengan membuat lapisan suspensi dari atas gelas beberapa kali di atas nyala lampu spirtus. Pewarnaan biologi lainya dapat digunakan agensia-agensia fiksasi kimia seperti campuran asam cuka dengan asam pikrat, alkohol dengan aseton, asam kromat dengan asam osmiat.

2.        Peluntur Zat Warna

Peluntur zat warna adalah suatu senyawa yang menghilangkan warna dari sel yang diwarnai. Peluntur zat warna berfungsi untuk menghasilkan kontrras yang baik pada bayangan mikroskop. Pada umumnya sel-sel yang mudah diwarnai akan lebih mudah pula dilunturkan. Sedangkan sel-sel yang sukar diwarnai akan lebih sulit dilunturkan warnanya. Adanya variasi di dalam kecepatan dekolorasi (peluntur) zat warna inilah yang digunakan untuk membedakan berbagai macam jenis bakteri dala pewarnaan gram atau pewarnaan bertingkat (diferensial).

Ada beberapa mazam peluntur zat warna:

a.       Peluntur zat warna bersifat asam, yakni HNO3, HCl, H2SO4, dan campuran asam-asam terssebut dengan alkohol.

b.      Peluntur warna bersifat basa, yakni KOH, NaOH, sabun, dan garam-garam basa.

c.       Peluntur zat warna yang lemah, yaitu alkohol, air, minyak, minyak cengkeh, aseton, dan gliserin.

d.      Garam-garam logam berat: AgNO3, CuSO4.

e.       Garam-garam logam ringan, Na2SO4, MgSO4.

3.        Intensifikasi Pewarnaan

Zat warna dapat diintensifkan dengan beberapa cara misalnya mempertinggi kadar zat warna (60-900C) dan menambahkan suatu mordan. Mordan adalah suatu zat kimia yang dapat menyebabkan sel-sel mikroba dapat diwarnai lebih intensif atau menyebabkan zat warna terikat lebih kuat pada jaringan sel bila dibandingkan dengan cara pewarnaan diberi mordan. Ada beberapa mordan antara lain, mordan basa yatiu, mordan yang bereaksi dengan anion zat zat warna asam yang berwarna, seprti FeSO4, kalium, antimonium tartrat, dan asetil piridinium klorida. Mordan asam yaitu, mordan yang bereaksi dengan zat-zat warna basa. Zat warna ini misalnya asam tanin, asam pikrat (Waluyo, 2008). 

Pewarnaan bakteri

Oleh kerena perbedaan indeks biasan antara bakteri dan kawasan sekelilingnya tidak besar, maka jurang perbezaan optikalnya juga adalah sedemikian. Keadaan ini mengakibatkan sel bakteri sukar untuk diamati. Tambahan pula, perbedaan indeks biasan yang kecil antara komponen-komponen sel bakteri juga menyulitkan substruktur bakteri untuk dilihat. Sebagai langkah untuk mengatasi masalah ini perbedaan warna digunakan untuk memudahkan melihat keseluruhan sel bakteri dan juga untuk mempamerkan substruktur bakteri dan segala-galanya mengenai bakteri dengan lebih terperinci. Pewarnaan juga digunakan untuk menunjukkan taburan dan jenis kimia berbagai-bagai komponen sel serta membedakanantara golongan-golongan bakteri.

Pewarna dan Jenis Pewarnaan

Bahan pewarna boleh dibagikan kepada dua golongan: pewarna acid dan pewarna bes. Pada pewarna acid, ciri pewarnaan adalah bergantung kepada anion (ion negatif) dan pada pewarna basa, ciri pewarnaan bergantung kepada kationnya (ion positif). Pewarna yang digunakan, umumnya, berasal daripada terbitan garam acid bebas kerena bentuk ini lebih larut, mampu menyusup masuk ke dalam sel dengan lebih baik dan pewarnaannya lebih kekal. Bakteri menunjukkan kecenderungan atau afiniti yang kuat terhadap pewarna basa (contoh: safranin, metilena biru, kristal ungu) kerana protoplasma bakteri mempunyai kandungan acid nukleat berkas negatif yang tinggi. Apabila diwarnakan dengan pewarna basa, cat yang negatif ini akan bertindak dengan ion positif pewarna basa. Sebaliknya cat negatif ini akan menolak pewarna acid, dengan demikian hanya latar belakang (kawasan di luar bakteri) saja yang diwarnai. Apabila sel bakteri diwarnakan dengan satu jenis pewarna saja, pewarnaan ini disebut pewarnaan sederhana (simple staining).

Pada umumnya dalam pewarnaan ini, keseluruhan sel bakteri diwarnakan secara sama rata dan substruktur atau komponen-komponen selnya tidak dibedakan. Untuk menunjukkan perbedaan yang wujud di kalangan sel bakteri tertentu, tata cara pewarnaan perbedaan yang menggunakan dua atau lebih pewarna digunakan. Intensiti pewarnaan boleh dipertingkatkan (ataupun supaya sasaran dapat diwarnakan) dengan menggunakan haba dalam keadaan tertentu atau menggunakan bahan kimia (aksentuator) seperti acid asetik, fenol atau anilin. Tindakan aksentuator ini tidak melibatkan pergabungannya dengan pewarna seperti yang berlaku pada mordan.

Mordan adalah bahan kimia yang membolehkan sesuatu pewarna mewarnai sesuatu bahan, atau mordan mempertingkatkan afiniti ataupun kecenderungan pewarna terhadap struktur tertentu. Pewarnaan yang diterangkan setakat ini dikenal sebagai pewarnaan positif kerena yang diwarnai ialah bakteri. Dalam pewarnaan negatif, satu film pewarna gelap meliputi ruang dan celah di antara bakteri-bakteri (latar belakang) dan bakteri tidak diwarnakan. Perlu disadari bahawa ciri-ciri pewarnaan bakteri (serta morfologi) dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti umur kultur dan sumber bakteri, yaitu sama ada berasal daripada spesimen klinikal atau dari kultur pertumbuhan.

 

 

Pewarnaan Gram

Pewarnaan Gram adalah tata cara pewarnaan utama di bidang bakteriologi. Di samping membolehkan bakteri dilihat dengan lebih mudah, pewarnaan ini juga digunakan untuk menggolongkan bakteri. Dalam tata cara pewarnaan Gram, pewarna digunakan secara berlebihan dan kemudian agen penghapus warna atau pembeda digunakan untuk menghilangkan pewarna berkenaan. Bakteri yang mengekalkan pewarna pertama (kristal ungu) disebut sebagai Gram-positif, manakala yang kehilangan pewarna ini dan diwarnai dengan pewarna kedua dinyatakan sebagai Gram-negatif. Larutan iodin Lugol yang digunakan berfungsi sebagai mordan dan pelarut organik seperti alkohol dan aseton digunakan sebagai

pembeda. Pewarna yang digunakan untuk menggantikan pewarna pertama yang dihilangkan oleh pembeza disebut pewarna balas (counter stain). Hasil tindak balas pewarnaan Gram adalah bergantung kepada komposisi dinding sel bakteri yang berkemampuan untuk mengikat pewarna pertama atau tidak. Protoplasma bakteri, dalam hal ini, sentiasa memberikan tindak balas Gram-negatif (Leong, dkk, 1999).

BAB III

METODE KERJA

 

 

3.1 Waktu dan Tempat

            Praktikum tentang pewarnaan dan cara perwarnaan ini dilakukan di Laboratorium Mikrobiologi dan Bioteknologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Mulawarman pada hari Senin tanggal 22 Maret 2010, pukul 13.00 Wita sampai selesai.

 

3.2 Alat dan Bahan

3.2.1 Alat-alat

1.      Objek gelas

2.      Pipet tetes

3.      Mikroskop

4.      Bunsen burner

5.      Jarum ose

3.2.2 Bahan-bahan

1.      Kristal violet

2.      Alkohol 95%

3.      NaCl

4.      Biakan Staphycoccus aerus

5.      Tinta cicin

6.      Safranin

7.      Lugol’s Iodine

8.      Aquades

 

3.3 Cara Kerja

3.3.1 Pewarnaan sederhana

1.      Dibersihkan objek gelas dari lemak dengan menggunakan alkohol.

2.      Diambil jarum ose, kemudian sterilkan dengan menggunakan bunsen burner.

3.      Diambil media biakan, setelah itu diambil suspensi bakteri dengan perlahan.

4.      Diratakan suspensi yang telah diambil pada gelas objek.

5.      Kemudian diangin-anginkan, lalu diteteskan NaCl 1 tetes, kemudian dikeringkan anginkan.

6.      Kemudian difiksasi diatas lampu Bunsen.

7.      Setelah itu didinginkan dan ditetesi dengan zat warna Kristal violet sebanyak 1 atau 2 tetes.

8.      Kemudian dibiarkan 1-2 menit agar kering.

9.      Setelah itu dicuci dengan air yang mengalir sampai zat warna tercuci. Kemudian dikering anginkan .

10.  Setelah kering preparat diamati di bawah mikroskop.

11.  Digambar bakteri yang tampak pada preparat.

 

3.3.2    Pewarnaan Negatif

1.          Dibersihkan objek gelas dari lemak dengan menggunakan alkohol dan dihangat-hangatkan diatas lampu Bunsen.

2.          Diambil jarum ose, kemudian sterilkan dengan menggunakan bunsen burner.

3.          Diambil media biakan, setelah itu diambil suspensi bakteri dengan perlahan.

4.          Diratakan suspensi yang telah diambil pada gelas objek.

5.          Kemudian diangin-anginkan, lalu diteteskan NaCl 1 tetes, kemudian dikeringkan anginkan.

6.          Diteteskan zat warna tinta cina sebanyak 1 atau 2 tetes, kemudian diratakan dengan objek gelas

7.          Kemudian dikeringkan anginkan.

8.          Setelah itu diamati di bawah mikroskop dan digambar sel-sel bakteri yang didapat.

 

 

3.3.3        Pewarnaan Gram

1.      Dibersihkan objek gelas dari lemak dengan menggunakan alkohol 95%.

2.      Diambil jarum ose, kemudian sterilkan dengan menggunakan bunsen burner.

3.      Diambil media biakan, setelah itu diambil suspensi bakteri dengan perlahan.

4.      Diratakan suspensi yang telah diambil pada gelas objek dan difiksasi di atas lampu bunsen.

5.      Diteteskan NaCl 2 tetes, kemudian dikering anginkan.

6.      Setelah kering, diteteskan lagi zat warna utama berupa Kristal violet sebanyak 1-2 tetes diamkan selama 1 menit.

7.      Kemudian dicuci dengan alkohol 95% selama 30 detik.

8.      Setelah itu dicuci dengan air mengalir dan dikeringkan.

9.      Kemudian di teteskan lagi dengan zat warna safranin sebanyak 2 tetes.

10.  Setelah itu cuci kembali  dengan air yang mengalir dan dikeringkan dengan dianginkan.

11.  Setelah itu diamati di bawah mikroskop dan digambar bentuk sel-sel bakteri yang tampak.

4.2 Pembahasan

            Metode pewarnaan sederhana suatu metode pewarnaan umum dimana dapat digunakan beberapa larutan tunggal zat warna (zat warna tunggal) dengan tujuan untuk melihat bentuk-bentuk sel bakteri. Dalam pewarnaan ini digunakan pewarna Kristal violet, dimana bakteri yang diwarnai akan berwarna ungu (violet). Tujuan dari pewarnaan sederhana adalah memberikan warna gelap pada bakteri sehingga bentuk sel dapat terlihat jelas.

            Metode pewarnaan negatif suatu metode pewarnaan umum dimana digunakan larutan zat warna yang tidak meresap ke dalam sel-sel bakteri melainkan hanya latar belakangnya saja,  sehingga hanya kelihatan atau nampak sebagai bentuk-bentuk yang kosong tidak berwarna (negatif). Pengecatan negatif ini sangat berguna untuk melihat bentuk-bentuk sel yang sesungguhnya, selain itu juga berguna untuk mengukur (pengukuran) bakteri, karena dalam pewarnaan ini sel-sel bakteri tidak ikut terwarnai oleh zat warna atau tidak mengalami perubahan. Di mana dalam pewarnaan ini sel mikroorganisme akan tampak transparan, sedangkan latar belakngnya akan tampak gelap.

            Pada pewarnaan negatif pada bakteri S. aerus akan terlihat bentuk bakteri yang transparan, berbentuk bola, dalam kelompok yang tidak teratur. Pada pewarnaan ini hanya latar belakangnya saja yang di warnai karena untuk melihat bentuk sel-sel dari bakteri yang terlihat transparan, sebab ada beberapa jenis bakteri yang tidak bisa diwarnai dengan zat warna basa. Dengan mewarnai latar belakangnya saja diharapkan dapat melihat bentuk sel-sel bakteri yang sesungguhnya dan terlihat transparan.

            Metode pewarnaan gram adalah pewarnaan diferensial yang sangat berguna dan paling banyak digunakan dalam pewarnaan bakteri, karena merupakan tahapan penting dalam langkah awal identifikasi. Pewarnaan ini didasarkan pada tebal atau tipisnya lapisan peptidoglikan di dinding sel dan banyak sedikitnya lapisan lemak pada membran sel bakteri. Jenis bakteri berdasarkan pewarnaan gram dibagi menjadi dua yaitu gram positif dan gram negatif. Bakteri gram positif memiliki dinding sel yang tebal dan membran sel selapis. Sedangkan baktri gram negatif mempunyai dinding sel tipis yang berada di antara dua lapis membran sel kegunaannya yaitu, untuk melihat atau mengamati bentuk-bentuk sel bakteri dan memberikan sifat reaksi pewarnaan bakteri yang dapat diketahui dengan melihat apakah termasuk negatif- gram (berwarna merah) atau positif-gram (berwarna biru).

            Fungsi dari zat warna yang digunakan antara lain:

a.       Safranin berfungsi sebagai zat warna yang memberi warna kontras pada bakteri dengan memberikan warna merah.

b.      Kristal violet yaitu zat warna yang memberikan atau menunjukkan sifat pewarnaan negatif dengan memberikan warna ungu pada bakteri yang peka terhadap zat warna basa.

c.       Zat warna Iodine berfungsi sebagai zat warna pengikat ikatan warna, sehingga warna yang dihasilkan lebih jelas.

d.      Tinta warna berfungsi memberikan warna biru tua atau gelap pada latar belakang dari preparat atau apusan bakteri.

Perbedaan dari bakteri gram negatif dan gram positif yaitu, bakteri gram positif memiliki dinding sel yang tebal dan membran sel selapis. Sedangkan bakteri gram negatif mempunyai dinding sel tipis yang berada di antara dua lapis membran sel kegunaannya yaitu, untuk melihat atau mengamati bentuk-bentuk sel bakteri dan memberikan sifat reaksi pewarnaan bakteri yang dapat diketahui dengan melihat apakah termasuk negatif-gram (berwarna merah) atau positif-gram (berwarna biru).

Morfologi dari S. aureus:

            Sel berbentuk bola, berdiameter 0,5 sampai 1,5 µm, terdapat tumggal dan berpasangan dan secara khas membelah diri pada lebih dari satu bidang, sehingga membentuk koloni yang tidak teratur. Merupakan gram positif dengan dinding sel mengandung dua komponen utama peptidoglikan serta asam tekoat. Tumbuh lebih cepat dalam keadaan aerobic dengan suhu optimum 350C-400C, berasosiasi dengan kulit, kelenjar kulit dan selaput lender hewan berdarah panas.

            Bakteri positif memiliki sifat mampu bereaksi dengan zat warna yang bersifat asam, sedangkan bakteri negatif dapat bereaksi dengan zat warna yang bersifat basa. Karena pada zat warna basa memberikan muatan positif dan zat warna asam memberikan muatan negatif.

BAB V

PENUTUP

 

 

5.1 Kesimpulan

            Dari praktikum kali ini diperoleh sebuah kesimpulan yaitu:

1.      Tujuan dari dilakukannya pewarnaa bakteri adalah memudahkan kita melihat mikroba di bawah mikroskop, memperjelas ukuran dan bentuk mikroba, melihat struktur luar dan dalam dari bakteri dan menghasilkan ciri khas dari bakteri dengan zat warna.

2.      Bentuk bateri yang dihasilkan dalam pewarnaa sangat bervariasi sesuai dengan jenis bakteri yang diwarnai, misalnya: bulat, berantai, dan memanjang.

3.      Faktor-faktor yang mempengaruhi pewarnaan bakteri: pembuatan preparasi yang harus diperhatikan, waktu dekolorisasi yang merupakan fase kritis, dan ketelitian dalam melakukan prosedur kerja agar tidak terjadi kesalahan.

 

 

5.2 Saran

            Untuk praktikum selanjutnya agar dapat mengunakan bakteri Bacillus subsutilis, agar bisa membandingkan hasil pewarnaan dan bentuk dari bakteri ini.

DAFTAR PUSTAKA

 

 

Budiyanto, A. K. 2002. Mikrobiologi Terapan. Penerbit Muhammadiyah Malang: Malang.

Dwidjoseputro, D. 1981. Dasar-Dasar Mikrobiologi. Djambatan: Jakarta.

Loeng, Y. K, Abdul H. A. A, Mohm. S. M. Y. 1999. Mikrobiologi Makmal. Penerbit Universiti Kebangsaan Malaysia: Selangor, Malaysia.

Waluyo, Lud. 2008. Teknik dan Metode Dasar dalam Mikrobiologi. UPT. Penerbit UMM: Malang.



Jumat, 04 Juni 2010

laporan karbihidrat..... park jei chonk

BAB 1
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Karbohidrat merupakan senyawa karbon, hidrogen, dan oksigen, dengan rasio hidrogen terhadap pksigen normalnya adalah 2 : 1 senyawa tersebut mengandung beberapa rantai “unit gula” atau “sakarida” yang masing – masing terbentuk dari tiga sampai tujuh atau karbon dengan atom hidrogen dan oksigen yang melekat padanya, baik sendiri – sendiri ataupun dalam kelompok (Cree, 2005).
Karbohidrat juga merupakan senyawa karbon yang banyak dijumpai di alam, terutama sebagai penyusun utama jaringan tumbuhan. Nama lain karbohidrat adalah sakarida (berasal dari bahasa Latin Saccharum = gula). Senyawa karbohidrat adalah polihidroksi aldehida atau polihidroksi keton yang mengandung unsur – unsur karbon (C), hidrogen (H), dan oksigen (O) dengan rumus empiris total (CH2O)n, karbohidrat paling sederhana adalah monosakarida, diantara glukosa yang mempunyai rumus molekul C6H12O6.
Karbohidrat merupakan bahan yang sangat diperlukan tubuh manusia, hewan, dan tumbuhan disamping lemak dan protein. Senyawa ini dalam jaringan merupakan cadangan makanan atau energi yang disimpan dalam sel. Sebagian besar karbohidrat yang ditemukan di alam terdapat sebagai polisakarida dengan berat molekul tinggi. Beberapa polisakarida berfungsi sebagai penyusun. Struktur di dalam dinding sel dan jaringan pengikat, akan tetapi dalam bentuk apa karbohidrat tersebut saling bereaksi untuk itu kita melakukan praktikum ini.

1.2 Tujuan Praktikum
– Mengetahui klasifikasi karbohidrat
– Mengetahui kandungan karbohidrat pada suatu sampel dengan beberapa uji karbohidrat
– Mengetahui sifat – sifar karbohidrat

BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA

Karbohidrat adalah suatu sumber energi yang sangat penting bagi tubuh. Namun, kebanyakan karbohidrat yang dikonsumsi masyarakat sekarang adalah karbohdrat olahan yang umumnya dominan gula dan tepung, tetapi miskin zat – zat penting lainnya terutama vitamin, mineral, enzim, dan serat. Karbohidrat olahan dapat menyebabkan kegemukan karena sebagian besar tidak bisa diserap, sehingga menumpuk didalam tubuh serta disimpan sebagai glikogen dan lemak tubuh (Yazid, 2006)
Karbohidrat atau sakarida adalah polihidroksi aldehid atau polihidroksi keton, atau senyawa yang dhidrolisis dan keduanya. Unsur utama penyusun karbohidrat adalah karbon, hidrogen, dan oksigen. Jumlah atom hidrogen dan oksigen memiliki perbandingan 2 : 1 seperti molekul air, misalnya glukosa 12 : 6 atau 2 : 1; sukrosa 22 : 11 atau 2 : 1, karena perbandingan tersebut orang dulunya menduga karbohidrat merupakan penggabungan dari ”karbon” dan ”hidrat atau air” sehingga molekul ini disebut karbohidrat. Walaupun penamaan ini tidak tepat, molekul ini tetap dinamakan karbohidrat hingga sekarang (Toha, 2001).
Sebaliknya, karbohidrat alami atau yang tidak terlalu banyak diproses seperti buah – buahan, sayur – sayuran, dan biji – bijian alami (whole grains) tidak menyebabkan kegemukan karena kaya akan serat, vitamin, mineral, dan enzim, serat menyebabkan perut cepat kenyang meskipun hanya dimakan sedikit. Serat pun mengikat dan sekaligus membuang lemak dan kolesterol jahat disaluran usus. Sebaliknya enzim, vitamin, dan mineral sangat penting dalam proses metabolisme karbohidrat (Yazid, 2006).
Karbohdirat merupakan pusat metabolisme tanaman hijau dan organisme fotosintetik lain yang menggunakan energi matahari untuk melakukan pembentukan karbohidrat. Karbohidrat yang terdapat dalam bentuk pati dan gula berfungsi sebagai bagian utama energi yang dikonsumsi oleh kebanyakan organisme di muka bumi ini. Sebagai pati dan glikogen, karbohidrat berfungsi sebagai penyangga di dalam dinding sel bakteri dan tanaman serta pada jaringan pengikat dan dinding sel organisme hewan karbohidrat jenis lain berperan sebagai pelumas sendi kerangka, sebagai perekat diantara sel, dan senyawa pemberi spesifisitas pada permukaan sel hewan (Toha, 2001).
Karbohidrat merupakan senyawa karbon yang banyak di jumpai di alam, terutama sebagai penyusun utama jaringan tumbuh – tumbuhan. Nama lain karbohidrat adalah sakarida (berasal dari bahasa Latin Saccarum = gula). Senyawa karbohidrat adalah polihidroksi aldehida atau pilihidroksi keton yang mengandung unsur – unsur karbon (C), hidrogen (H), dan oksigen (O) dengan rumus empiris total (CH2O)n. Karbohodrat paling sederhana adalah monosakarida, diantaranya glukosa yang mempunyai rumus molekul C6H12O6.
Karbohidrat merupakan bahan yang sangat diperlukan tubuh manusia, hewan, dan tumbuhan disamping lemak dan protein. Senyawa ini dalam jaringan merupakan cadangan makanan atau energi yang disimpan dalam sel. Sebagian besar karbohidrat yang ditemukan dialam terdapat sebagai polisakarida dengan berat molekul tinggi. Beberapa polisakarida berfungsi sebagai bentuk penyimpan bagi monosakarida, sedangkan yang lain sebagai penyusun struktur di dalam dinding sel dan jaringan pengikat.
Pada tumbuhan karbohidrat disintesis dari CO2 dan H2O melalui proses fotosintesis dalam sel berklorofil dengan bantuan sinar matahari. Karbohidrat yang dihasilkan merupakan cadangan makanan yang disimpan dalam akar, batang dan biji sebagai pati (amilum). Karbohidrat dalam tubuh manusia dan hewan dibentuk dari beberapa asam amino, gliserol lemak, dan sebagian besar diperoleh dari makanan yang berasal dari tumbuh – tumbuhan, karbohidrat dalam sel tubuh disimpan dalam hati dan jaringan otot dalam bentuk glikogen (Yazid, 2006).
Detoksikasi
Detoksikasi adalah proses menghilangkan atau mengurangi sifat toksis senyawa metabolit terhadap tubuh, dan proses ini berlangsung terutama di hati. Namun tidak seluruhnya demikian, ada kalanya dihasilkan produk yang lebih toksis.
Senyawa toksis ini selain berupa hasil metabolisme di jaringan – jaringan tubuh, juga dapat berupa senyawa hasil pembusukan kbakteri di kolon yang ikut terserap.
Reaksi detoksikasi dapat berupa :
1. Oksidasi
2. Reduksi
3. Konjugasi
4. Hidrolisis
1. Oksidasi
Biasanya berupa reaksi awal yang masih diikuti oleh reaksi detoksikasi lainnya, misalnya konjugasi dengan senyawa konjugat. Misalnya :
a. Induk oksid indoksil konj. H2SO4 Indikan
b. Fenil – asam lemak
Residu asam lemaknya dioksidasi – beta sehingga :
– Bila residu asam lemak mempunyai atom C jumlahnya genap akan dihasilkan fenil – asetat ; sedangkan
– Bila residu asam lemak mempunyai atom C jumlahnya ganjil akan dihasilkan asam benzoat.
Pada manusia produk – produk tersebut selanjutnya mengalami berturut – turut sebagai berikut :
 Fenil – asetat berkonjugasi dengan glutamin membentuk fenil asetat – glutamin
 Asam benzoat berkonjugasi dengan glisin membentuk HIP PURAT
c. Benzen, mengalami
 Pemecahan inti benzen akan dihasilkan asam mukonan, atau
 Dioksidasi akan menghasilkan fenol, untuk selanjutnya fenol berkonjugasi dengan :
 H2SO4 (seperti indol, skatol, kresol) atau
 Glukuronat – beta membentuk fenil – glukuronat
2. Reduksi
Reaksi ini kurang berarti bila dibandingkan dengan reaksi oksidasi.
Misalnya :
 Di kolon, pigmen empedu direduksi menjadi urobilin dan urobilin nogen.
 Asam pikrat direduksi menjadi asam pikramat
 Trikloraldehid direduksi menjadi hidroquinone (Anonim, 1980)

Sifat – sifat Karbohidrat
Sifat kimia karbohidrat berhubungan erat dengan gugus fungsi yang dimilikinya, seperti gugus – OH, gugus aldehida dan gugus keton. Beberapa jenis karbohidrat mempunyai sifat dapat mereduksi, terutama dalam suasana basa karena adanya gugus aldehid atau keton bebas dalam molekul karbohidrat. Sifat ini digunakan untuk identifikasi karbohidrat dan tampak pada reaksi ion – ion logam misalnya ion Cu++ dan ion Ag++.
Metabolisme karbohidrat seperti halnya metabolisme lainnya terdiri dari reaksi katabolisme dan anabolisme. Tujuan katabolisme karbohidrat adalah untuk mendapatkan energi yang tersimpan dalam senyawanya. Energi yang dihasilkan biasanya di simpan lagi dalam senyawa energi tinggi sebelum digunakan. Sementara anabolisme karbohidrat bertujuan untuk memasok karbohidrat pada makhluk hidup sebagai salah satu nutrien utama yang dibuat dari senyawa – senyawa yang amat sederhana seperti CO2 atau senyawa lainnya (Toha, 2006).
Pada umumnya, karbohidrat berupa serbuk putih yang mempunyai sifat sukar larut dalam pelarut non polar, tetapi mudah larut dalam air. Kecuali, polisakarida bersifat tidak larut dalam air.
Amilum dengan air dingin akan membentuk suspensi dan bla dipanaskan akan terbentuk pembesaran berupa pasta dan bila didinginkan akan membentuk kolid yang kental semacam gel. Suspensi amilum akan memberikan warna biru dengan larutan iodium. Hal ini dapat digunakan untuk mengidentifikasikan adanya amilum dalam suatu bahan. Hidrolisis sempurna amilum oleh asam atau enzim akan menghasilkan glukosa.
Glikogen mempunyai struktur empiris yang serupa dengan amilum pada tumbuhan, pada proses hidrolisis, glikogen menghasilkan pula glukosa karena, baik amilum maupun glikogen, tersusun dari sejumlah satuan glukosa. Glikogen dalam air akan membentuk koloid dan memberikan warna merah dengan larutan iodium. Pembentukan glikogen dari glukosa dalam sel tubuh diatur oleh hormon insulin dan prosesnya disebut glikogenesis. Sebaliknya, proses hidrolisis glikogen menjadi glukosa disebut glicogenolisis.
Semua jenis karbohidrat, baik monosakarida, disakarida, maupun polisakarida, akan berwarna merah ungu bila larutannya dicampur beberapa tetes larutan -naftol dalam alkohol dan ditambahkan asam sulfat pekat, sehingga tidak bercampur uji ini dikenal dengan uji molish (Yazid, 2006).

Struktur Kimia
Karbohdirat merupakan senyawa karbon, hidrogen, dan oksigen dengan rasio hidrogen terhadap oksigen normalnya adalah 2 : 1, senyawa tersebut mengandung beberapa rantai ”unit gula” atau ”sakarida”, yang masing – masing terbentuk dari tiga sampai tujuh atau karbon dengan atau hidrogen dan oksigen yan gmelekat padanya baik sendiri – sendiri ataupun dalam kelompok.
Sumber Utama
Sumber utama karbohidrat dalam diet normal manusia adalah sukrosa (gula tebu) dan laktosa (gula susu). Keduanya memiliki rumus kimia C12H22O11 – dan zat tepung, yang merupakan karbohidrat kompleks yang dapat ditemukan dalam semua makanan, terutama gandum dan makanan yang dibuat dari tumbuhan tersebut seperti roti, kue dan serat. Karbohdirat lain yang dimakan (dalam jumlah yang sangat terbatas) mencakup glikogen, pektin, dan dekstrin. Beberapa senyawa yang rasio H : O nya tidak sebesar 2 : 1 dan juga dimakan dalam jumlah yang terbatas oleh alkohol, asam laktat dan asam piruvat.
Kelas
Kelas karbohidrat yang akan kita bahas mencakup :
 Monosakarida ”mono” berarti ”satu” dan kata ”sakarida” mengacu pada gula, dengan demikian monosakarida adalah gula sederhana dengan satu unit gula dalam setiap molekulnya. Monosakarida merupakan satu – satunya karbohidrat yang dapat diabsorpsi langsung melalui dinding saluran gastrointestiral. Karbohidrat yang lain harus diurai dahulu menjadi satu atau beberapa monosakarida berikut sebelum diabsorpsi.
– Glukosa (dekstrosa), yang ada secara alami dalam makanan, dan juga dibentuk oleh tubuh dan merupakan bentuk pilihan sumber energi tubuh.
– Fruktosa didapat dari buah – buahan dan madu
– Galaktosa, yang tidak ada dalam makanan tetapi dihasilkan dari laktosa (Cree, 2005).



BAB 3
METODOLOGI PERCOBAAN

3.1 Alat dan Bahan
3.1.1 Alat
– Hot plate
– Sendok
– Pipet tetes
– Erlenmeyer
– Magnetik stirer
– 7 tabung reaksi
– Pipet volume
– Sarung tangan (lateks)
– Spatula
– Stopwatch, jam

3.1.2 Bahan
– Tissue
– Kacang tanah
– Kacang buncis
– Larutan glukosa
– Larutan amilum
– Larutan fruktosa
– Larutan sukrosa
– Larutan H2SO4
– Larutan I2
– Aquadest
– Larutan HCl pekat
– Larutan Molish
– Larutan fehling

3.2 Cara Kerja
3.2.1 Uji Molish
– Disiapkan tabung reaksi 2 buah
– Dimasukkan 2 tetes pereaksi molish pada masing – masing tabung
– Ditambahkan 1 ml larutan H2SO4 pada masing – masing tabung reaksi
– Diamati perubahannya

3.2.2 Uji Iodium
– Disiapkan 2 tabung reaksi
– Dimasukkan pada masing – masing tabung reaksi 1 pipet amilum dan 1 pipet glukosa
– Ditambahkan I2
– Diamati perubahan yang terjadi

3.2.3 Uji Fehling
– Disiapkan 2 tabung reaksi
– Di isi pada tiap – tiap tabung 1 pipet fruktosa dan sukrosa
– Ditambahkan larutan fehling sebanyak 10 tetes dengan menggunakan pipet tetes
– Di amati perubahan yang terjadi

3.2.4 Hidrolisis Polisakarida
– Dimasukkan 2 sendok tepung kacang tanah ke dalam beaker glass
– Dilarutkan dengan menggunakan 130 ml air
– Ditambahkan 3 ml HCl pekat
– Diamsukkan magnetik stirer dan campuran diaduk
– Dipanaskan hingga campuran sampel mendidih
– Diambil setiap 3 menit campuran tersebut sebanyak 1 pipet.
– Diamsukkan ke dalam tabung reaksi
– Di uji dengan iodium ditambah 2 tetes
– Diulangi hingga tidak terjadi perubahan warna pada campuran setiap 3 menit
– Dicatat waktu yang digunakan hingga tidak terjadi perubahan warna lagi.
– Diulangi prosedur diatas dengan mengganti tepung kacang tanah dengan tepung kacang buncis.

3.3 Flow Sheet
a. Glukosa + Molish

Ditambahkan

Ditambahkan

Hasil


b. Amilum + Molish

Ditambahkan

Ditambahkan

Hasil

c. Fruktosa + Molish

Ditambahkan
Ditambahkan
Hasil
3.3.2 Uji Iodium
a. Amilum + I2 b. Glukosa + I2

Ditambahkan Ditambahkan


Hasil Hasil


3.3.3 Uji Fehling
a. Fruktosa + fehling (A+B) b. Sukrosa+ fehling)


Ditambahkan Ditambahkan

Hasil Hasil
3.3.4 Hidrolisis Polisakarida
a. Sampel tepung kacang tanah



Dilarutkan dalam

Ditambahkan

Dipanaskan setiap 3 menit diambil 1 pipet
Dimasukkan ke

Ditambahkan

Diamati, 3 menit pertama

Diamati 21 menit terakhir


b. Sampel tepung kacang buncis

Dilarutkan dalam

Ditambahkan

Dipanaskan, diambil 1 pipet setiap 3 menit
Dimasukkan ke

Ditambahkan


Diamati, 3 menit pertama


Diamati 21 menit terakhir


BAB 4
HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil Pengamatan
No Perlakuan Pengamatan
1






2



3



4


Uji Molish
a. pipet sampel + 2 pipet pereaksi molish
1. Glukosa + molish + 1 ml H2SO4
2. Amilum + molish + 1 ml H2SO4
3. Fruktosa + molish + 1 ml H2SO4

Uji Iodium
a. 1 pipet amilum + 3 tetes I2
b. 1 pipet glukosa + 3 tetes I2

Uji fehling
a. Fruktosa 1 pipet + fehling 10 tetes
b. Sukrosa 1 pipet + fehling 10 tetes

Hidrolisis Polisakarida
a. 2 sendok sampel (tepung kacang tanah) + 150 ml air + HCl pekat 3 ml (dipanaskan) 3 menit + I2 2 tetes.

b. 2 sendok sampel (tepung kacang buncis) + 150 ml air + HCl pekat 3 ml (dipanaskan) 3 menit + I2 2 tetes.


– Reaksi terbentuknya cincin ungu
– Reaksi terbentuknya cincin ungu
– Reaksi terbentuknya cincin ungu


– Reaksi ungu tua (pekat)
– Tidak bereaksi (orange)


– Endapan merah bata (5 menit)
– Endapan merah bata (5 menit)


– menit larutan + I2  biru
– menit larutan + I2  coklat



– menit larutan + I2  coklat
– 33 menit larutan + I2  ungu tua

Reaksi
Amilum + I2


Reaksi Polisakarida + HCl



Reaksi Molish


Maltosa + Pereaksi Molish





Reaksi Fehling (A + B) + Fruktosa



Glukosa + amilum


4.2 Pembahasan
Karbohidrat atau sakarida adalah polihidroksi aldehid atau polihidroksi keton, atau senyawa yang dihidrolisis dari keduanya. Unsur utama penyusun karbohidrat adalah karbon, hidrogen, dan oksigen. Jumlah atom hidrogen dan oksigen memiliki kperbandingan 2 : 1 seperti molekul air, misalnya glukosa 12 : 6 atau 2 : 1; Sukorosa 22 : 11 atau 2 : 1. Karena perbandingan tersebut orang dahulunya menduga karbohidrat merupakan penggabungan dari ”karbon” dan ”hidrat atau air” sehingga molekul ini disebut karbohidrat (Toha, 2001).
Pengertian karbohidrat dari referensi lain yaitu senyawa karbon yang banyak dijumpai di alam, terutama sebagai penyusun utama jaringan (berasal dari bahasa Latin Saccharum : gula). Senyawa karbohidrat adalah polihidroksi aldehida atau polihidroksi keton yang mengandung unsur – unsur karbon (C), hidrogen (H, dan oksigen (O) dengan rumus empiris total (CH2O)n. Karbohidrat paling sederhana adalah monosakarida, diantaranya glukosa yang mempunyai rumus molekul C6H12O6 (Yazid, 2006)
Klasifikasi karbohidrat dari referensi yang saya dapatkan dari rumus karbohidrat, dapat diketahui bahwa senyawa ini adalah suatu polimer yang tersusun atas monomer – monomer, berdasarkan monomer yang menyusunnya, karbohidrat dibedakan menjadi 3 golongan, yaitu :
1. Monosakarida merupakan suatu karbohidrat paling sederhana yang tidak dapat dihidrolisis menjadi karbohidrat lain. Bentuk ini dibedakan kembali menurut jumlah atom C yang dimiliki dan sebagai aldosa atau ketosa. Monosakarida yang terpenting adalah glukosa, galaktosa dan fruktosa
Dari literatur buku yang lain, monosakarida merupakan senaywa karbohdirat yang paling sederhanat yang tidak dapat dihidrolisis lagi. Beberapa monosakarida mempunyai rumus kimia (CH2O)n dimana n = 3 atau turunan aldehida, maka monosakarida tersebut dinamakan aldosa. Dan bila gugusnya merupakan turunan keton maka monosakarida tersebut dinamakan ketosa. Monosakarida aldosa yang paling sederhana adalah gliseraldehida, sedangkan monosakarida ketosa yang paling sederhana adalah dihidroksiaseton (Toha, 2001).
2. Oligosakarida merupakan karbohidrat yang tersusun dari dua sampai sepuluh satuan monosakarida. Oligosakarida yang umum adalah disakarida, yang terdiri atas dua satuan monosakarida dan dapat dihirolisis menjadi monosakarida yang terpenting adalah sukrosa, maltosa dan laktosa (Yazid, 2006)
Dari referensi lain yang didapatan, oligosakarida, karbohidrat yang terbentuk dari dua sampai sepuluh monosakarida digolongkan dalam kelompok oligoserida, termasuk kelompok oligosakarida adalah disakarida, trisakarida, dan seterusnya sesuai dengan jumlah satuan monosakaridanya. Olisakarida yang paling banyak di alam ialah disakarida. Molekul ini terdiri atas dua satuan monosakarida yang dihubungkan oleh ikatan glikosida. Disakarida yang dikenal diantaranya adalah sukrosa (gula tebu), maltosa (gula gandum), laktosa (gula susu) dan Selobiosa. Keempat disakarida ini mempunyai rumus molekul sama (C12H22O11) tetapi struktur molekulnya berbeda (Toha, 2001).
3. Polisakarida : karbohidrat yang tersusun lebih dari sepuluh satuan monosakarida dan dapat berantai lurus atau bercabang. Polisakarida dapat dihidrolisis oleh asam atau enzim tertentu yang kerjanya spesifik. Hidrolisis sebagian polisakarida menghasilkan oligosakarida dan dapat digunakan untuk menentukan struktur molekul polisakarida. Contoh : amilum, glikogen, dekstrin dan sellulosa (Yazid, 2006)
Dari referensi lain, polisakarida merupakan karbohidrat bentuk polimer dari satuan monosakarida yang sangat panjang. Polisakarida berfungsi sebagai : bahan bangunan, bahan makanan, dan sebagai zat spesifik. Contoh polisakarida bahan bangunan adalah selulosa yang memberikan kekuatan pada kayu dan dahan bagi tumbuhan, dan kitin, komponen struktur kerangka luar serangga. Polisakarida nutrisi yang lazim adalah pati (Starch pada padi dan kentang) dan glikogen pada hewan. Contoh polisakarida zat spesifik adalah heparin yang berfungsi mencegah koagulasi darah (Toha, 2001).
Untuk kandungan dari sampel kacang tanah dan kacang buncis dari suatu referensi yang saya jumpai adalah sebagai berikut L
 Kandungan kacang tanah
– Vitamin A, B, B2 dan protein
– Tiamin
– Ribosom
– Fosfor
– Zat besi
– Potassium folat
– Magnesium
– Mangan
– Kalori
– Sodium
– Karbohidrat
– Kalsium

 Kandungan kacang buncis dalam 100 gram berat
Protein 2,4 gr
Lemak 0,2 gr
 Karbohidrat 7,7 gr  kandungan yang terbanyak
Kalsium 6,5 mg
Zat besi 1,1 mg

Prinsip – prinsip dalam praktikum ini sesuai dengan literatur yang saya dapatkan adalah sebagai berikut :
a. Uji molish pada dasarnya ingin membuktikan adanya karbohidrat dengan cara pengerjaan yang kualitatif, prosesnya yaitu karbohidrat oleh asam organik pekat (HCl) akan dihidrolisis menjadi monosakarida. Dehidrasi monosakarida jenis pentosa oleh asam sulfat pekat menjadi furfural dan golongan heksosa menghasilkan hidroksi-metil furfural. Pereaksi molish yang terdiri atas -naftol dalam alkohol akan bereaksi dengan furfural membentuk senyawa kompleks berwarna ungu.
b. Uji fehling atau benedict pada dasarnya ingin membuktikan adanya gula reduksi. Gula yang mempunyai gugus aldehida atau keton bebas akan mereduksi ion Cu2+ dalam suasana alkalis menjadi Cu+, yang mengendap sebagai Cu2O berwarna merah bata.
c. Uji Iodium pada dasarnya ingin membuktikan adanya polisakarida (amilum, glikogen, dan dekstrin). Dengan penambahan Iodium diharapkan polisakaridaakan membentuk kompleks adsorpsi berwarna spesifik seperti coklat.
d. Uji hidrolisis polisakarida pada dasarnya ingin melakukan identifikasi hasil hidrolisis dari suatu bahan atau sampel dengan cara pemanasan yang berkala.

Hasil pengamatan untuk hidrolisis polisakarida
 Untuk sampel kacang tanah (150 ml air + HCl 3 ml) (dipanaskan dengan durasi 3 menit lalu ditambah I2 2 tetes :
Selang waktu Hasil
3 menit
6 menit
9 menit
12 menit
15 menit
18 menit
21 menit Warna biru
Warna biru
Warna biru
Warna hitam
Warna hitam
Warna coklat tua
Warna coklat muda




 Sampel kacang buncis
Selang waktu Hasil
3 menit
6 menit
9 menit
12 menit
15 menit
18 menit Coklat
Hitam
Ungu tua
Ungu tua
Ungu tua
Ungu tua


BAB 5
PENUTUP

5.1 Kesimpulan
– Karbohidrat diklasifikasikan ke dalam beberapa bagian yaitu monosakarida, oligosakarida dan polisakarida. Ketiga klasifikasi karbohdirat ini didasarkan pada satuan monomer dari monosakarida dan tersusun berdasarkan atas masing – masing atom C yang dimiliki dan sebagai aldosa ataupun ketosa.
– Pengujian kandungan karbohidrat pada suatu sampel dapat dilakukan dalam beberapa cara uji sebagai berikut :
a. Pengujian molish memiliki tujuan membuktikan adanya karbohidrat secara kualitatif
b. Pengujian iodium (iod) mempunyai tujuan membuktikan adanya polisakarida (amilum, dekstrin dan glikogen)
c. Pengujian hidrolisis polisakarida memiliki tujuan mengidentifikasi hasil hidrolisis polisakarida
d. Pengujian fehling mempunyai tujuan membuktikan adanya gula reduksi
– Sifat – sifat karbohidrat secara umum :
a. Amilum apabila dengan air dingin maka akan tersuspensi dan bila dipanaskan akan terbentuk pembesaran berupa pasta
b. Glikogen mempunyai struktur empiris yang serupa dengan amilum pada tumbuhan.

5.2 Saran
– Hendaknya daam praktikum selanjutnya kita mencoba uji penghidrolisisan disakarida sesuai yang tertera pada modul (Penuntun Praktikum).
– Hendaknya juga kita melakukan penghidrolisisan pati sehinggat kita mengetahui kandungan karbohidrat dari makanan yang kita konsumsi sehari – hari.


DAFTAR PUSTAKA

Anonim, 1989. Ikhtisar Biokimia Dasar A. Fakultas Kedokteran. Universitas Indonesia : Jakarta
Cree, Laurie, 2005. Sains dalam Keperawatan. Buku Kedokteran EGC : Jakarta
Toha, Abdul, Hamid, H. 2001. Biokimia Metabolisme Biomolekul. Alfabeta : Bandung
Yazid, Eisten, 2006. Penuntun Praktikum Biokimia Untuk Mahasiswa Analis. C.V Andi Offset : Yogyakarta

Selasa, 25 Mei 2010

virus

VIRUS
Secara umum:
Ilmu tentang Virus disebut Virologi. Virus (bahasa latin) = racun. Hampir semua virus dapat menimbulkan penyakit pada organisme lain. Saat ini virus adalah mahluk yang berukuran paling kecil. Virus hanya dapat dilihat dengan mikroskop elektron dan lolos dari saringan bakteri (bakteri filter).

SEJARAH PENEMUAN
D. Iwanowsky (1892) dan M. Beyerinck (1899) adalah ilmuwan yang menemukan virus, sewaktu keduanya meneliti penyakit mozaik daun tembakau.
Kemudian W.M. Stanley (1935) seorang ilmuwan Amerika berhasil mengkristalkan virus penyebab penyakit mozaik daun tembakau (virus TVM).
Ukuran, struktur, dan anatomi, serta reproduksi virus.
Virus merupakan organisme subselular yang karena ukurannya sangat kecil, hanya dapat dilihat dengan menggunakan mikroskop elektron. Ukurannya lebih kecil daripada bakteri. Karena itu pula, virus tidak dapat disaring dengan penyaring bakteri.
Perbedaan virus dengan sel hidup
Sel hidup: 1. memiliki 2 tipe asam nukleat sekaligus 2. dapat mereproduksi semua bagian selnya 3. memiliki system metabolisme

Virus : 1. hanya memiliki 1 tipe asam nukleat 2. tidak dapat mereproduksi semua bag. Selnya, virus hanya mereproduksi materi genetik dan selubung proteinnya. 3. tidak memiliki system metabolisme , oleh karena itu virus tidak dapat tumbuh dan bereproduksi tanpa adanya sel inang.
Partikel virus mengandung DNA atau RNA yang dapat berbentuk untai tunggal atau ganda. Bahan genetik kebanyakan virus hewan dan manusia berupa DNA, dan pada virus tumbuhan kebanyakan adalah RNA yang beruntai tunggal. Bahan genetik tersebut diselubungi lapisan protein yang disebut kapsid. Kapsid bisa berbentuk bulat (sferik) atau heliks dan terdiri atas protein yang disandikan oleh genom virus.
Untuk virus berbentuk heliks, protein kapsid (biasanya disebut protein nukleokapsid) terikat langsung dengan genom virus. Misalnya, pada virus campak, setiap protein nukleokapsid terhubung dengan enam basa RNA membentuk heliks sepanjang sekitar 1,3 mikrometer. Komposisi kompleks protein dan asam nukleat ini disebut nukleokapsid. Pada virus campak, nukleokapsid ini diselubungi oleh lapisan lipid yang didapatkan dari sel inang, dan glikoprotein yang disandikan oleh virus melekat pada selubung lipid tersebut. Bagian-bagian ini berfungsi dalam pengikatan pada dan pemasukan ke sel inang pada awal infeksi.
Kapsid virus sferik menyelubungi genom virus secara keseluruhan dan tidak terlalu berikatan dengan asam nukleat seperti virus heliks. Struktur ini bisa bervariasi dari ukuran 20 nanometer hingga 400 nanometer dan terdiri atas protein virus yang tersusun dalam bentuk simetri ikosahedral. Jumlah protein yang dibutuhkan untuk membentuk kapsid virus sferik ditentukan dengan koefisien T, yaitu sekitar 60t protein. Sebagai contoh, virus hepatitis B memiliki angka T=4, butuh 240 protein untuk membentuk kapsid. Seperti virus bentuk heliks, kapsid sebagian jenis virus sferik dapat diselubungi lapisan lipid, namun biasanya protein kapsid sendiri langsung terlibat dalam penginfeksian sel. Partikel lengkap virus disebut virion. Virion berfungsi sebagai alat transportasi gen, sedangkan komponen selubung dan kapsid bertanggung jawab dalam mekanisme penginfeksian sel inang.
Reproduksi virus
Reproduksi virus secera general terbagi menjadi 2 yaitu litik dan lisogenik proses-proses pada siklus litik: pertama, virus akan mengdakan adsorpsi atau attachment yang ditandai dengan menmpelnya virus pada dinding sel,kemudian pada virus tertentu (bakteriofage), melakukan penetrasi yaitu dengan cara melubangi membran sel dengan menggunakan enzim, setelah itu virus akan memulai mereplikasi materi genetik dan selubung protein, kemudian virus akan memanfaatkan organel-organel sel, kemudian sel mengalami lisis.
Proses-proses pada siklus lisogenik: Reduksi dari siklus litik ke profage( dimana materi genetiak virus dan sel inang bergabung), bakteri mengalami pembelan binner, dan profage keluar dari kromosom bakteri.
siklus litik:
 Waktu relatif singkat
 Menonaktifkan bakteri
 Berproduksi dengna bebas tanpa terikat pada kromosom bakteri siklus lisogenik
 Waktu relatif lama
 Mengkominasi materi genetic bakteri dengn virus
 Terikat pada kromosom bakteri
Isolasi, kultivasi dan Identifikasi Virus
Bakteriophage yang merupakan virus penginfeksi bakteri dapat ditumbuhkan baik paada suspensi bakteri pada media cair ataupun media padat.

Rabu, 28 April 2010

media mikroba

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Populasi mikroba di alam tidak terpisah sendiri menurut jenisnya, tetapi terdiri dari campuran berbagai macam sel dan dalam jumlahnya sangat besar dan kompleks. Mikroba ini terdiri jutaan spesies yang hidup dan menghuni setiap bagian yang ada di alam, baik ditubuh kita, seperti saluran pencernaan dan kulit, bahkan pada benda mati seperti udara, tanah, dan air yang merupakan komponen alam sebagai tempat yang juga dihuni oleh beragam mikroorganisme.

Didalam analisis laboratorium mikrobiologi bakteri-baketri tersebut memiliki manfaat bagi dunia ilmu pengetahuan baik bersifat negative atau positif. Namun mikroba tersebut masih berbentuk campuran, sehingga mikroba tersebut harus dipisahkan agar kita mendapat mikroba (bakteri dan jamur) yang kita inginkan.

Untuk mendapatkan bakteri dan jamur tersebut maka dilaboratorium mikrobiologi dilakukan pembiakan dengan teknik isolasi. Isolasi mikroba berarti memisahkan satu jenis mikroba dari biakan campuran menjadi satu biakan murni (populasi sel yang semuanya berasal dari satu sel induk).

Oleh karena itu dilakukan percobaan ini untuk memahami tentang proses isolasi dan fingsinya. Bakteri dan jamur ini dapat diisolasi menjadi kultur murni yang terdiri dari satu jenis yang dapat dipelajari morfologi, sifat dan kemampuan biokimiawinya.

1.2 Tujuan Praktikum

a. Mengetahui bentuk mikroba (bakteri dan jamur) yang terkandung di dalam air sungai Mahakam.

b. Mengetahui fungsi dari pemanasan dengan menggunakan Bunsen Burner.

c. Mengetahui kenapa lama inkubasi pada media NA dan media PDA berbeda.

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

Untuk pertumbuhan dan perkembangan mikroba, diperlukan substrat yang disebut media. Sedang media itu sendiri sebelum dipergunakan harus dalam keadaan steril, artinya tidak ditumbuhi oleh mikroba lain yang tidak diharapkan.

Agar mikroba dapat tumbuh dan berkembang dengan baik di dalam media, diperlukan persyaratan :

a. Bahwa di dalam media harus terkandung semua unsur hara yang diperlukan untuk pertumbuhan dan perkembangan.

b. Bahwa media harus mempunyai tekanan osmosa, tegangan permukaan dan pH yang sesuai dengan kebutuhan mikroba.

c. Bahwa media harus dalam keadaan steril, artinya sebelum ditanami mikro yang dimaksud tidak ditumbuhi oleh mikroba lain yang tidak diharapkan (Suriawiria, 2005).

Isolasi Mikroorganisme

Untuk memperoleh mikroorganisme yang sesuai dalam industri adalah memperolehnya dari lingkungan. Lingkungan yang paling umum adalah dari tempat produksi atau pada produk yang dihasilkan meskipun dapat pula diperoleh dari lingkungan lain serperti tanah, air, dan sebagainya. Umumnya isolat selalu diperoleh dari lingkungan yang mendekati atau pada substrat tempat tumbuhnya. Oleh sebab itu, untuk memperoleh isolat organisme yang digunakan untuk membuat kecap dapat diperoleh dari lokasi pembuatan kecap (Hidayat, 2006).

Berdasarkan bentuk morfologi

Bakteri dapat digolongkan atas tiga golongan yaitu:

1. Basil (dari bacillus) berbentuk serupa tongkat pendek, silindris. Sebagaian besar bakteri berupa basil. Basil dapat bergandeng-gandengan panjang, begandengan dua-dua atau terlepasa satu sama lain. Yang bergandeng-gandengan panjang disebut streptobasil, yang dua-dua disebut diplobasil. Ujung-ujung basil yang terlepas satu sama lain itu tumpul, sedang ujung-ujung yang masih bergandengan itu tajam.

2. Kokus (dari coccus) adalah bakteri yang bentuknya serupa bola-bola kecil golongan ini tidak sebanyak golongan basil. Kokus ada yang bergandeng-gandengan panjang serupa tali leher, ini disebut streptokokus; ada yang bergandengan dua-dua, ini disebut tetrakokus; kokus yang mengelompok merupakan suatu untaian disebut stafikokus, sedang kokus yang mengelompok serupa kubus disebut sarsina.

3. Spiril (dari spirillum) ialah bakteri yang bengkok atau berbengkok-bengkok serupa spiral. Bakteri yang berbentuk spiral itu tidak terdapat banyak. Golongan ini merupakan golongan yang paling kecil, jika disbanding dengan golongan kokus maupun golongan basil (Dwijoseputro, 2005).

Problem yang sering muncul adalah memilih media pertumbuhannya. Langkah pertama yang sering dilakukan adalah mematikan atau menghambat kontaminan yang sering ada. Kultur yang diperkaya sering digunakan untuk memacu pertumbuhan organisme yang diharapkan sehingga dapat diisolasi. Isolat yang diperoleh kemudian dimurnikan dan ditumbuhkan pada media padat. Sebagai kultur sediaan digunakan media agar miring, isolat yang digunakan harus diuji terlebih dahulu terhadap kemampuan membuat produk yang diharapkan, senyawa-senyawa penghambat dan pemacu pertumbuhannya, kondisi lingkungan yang diharapkan untuk tumbuh dan berproduksi secara optimum dan sebagainya.

Tahap pertama dalam penampihan mikroba yang potensial untuk diterapkan dalam industri adalah isolasi. Isolasi meliputi mendapatkan, memurnikan, identifikasi, dan pengujian produksi. Oleh karena itu yang perlu diingat adalah bahwa isolat secara ekonomis menguntungkan dan seleksi kultur merupakan perpaduan antara produktivitas mikroba dan ekonomi proses.

Kriteria yang penting untuk memilih mikroba adalah:

1. Karakteristik Nutrisi Mikroba, dalam proses dibutuhkan medium yang sangat murah atau telah ditetapkan, misalnya menggunakan methanol sebagai sumber energi. Dalam hal ini dibutuhkan medium isolasi yang sesuai.

2. Suhu optimum mikro, menggunakan mikroba yang mempunyai suhu optimum di atas 400C, sehingga mengurangi biaya pendinginan pada fermentasi skala besar sehingga menggunakan suhu tersebut untuk isolasi merupakan hal yang penting.

3. Aksi mikroba terhadap peralatan yang digunakan, dalam beberapa hal isolate dapat dicari dari alam sekitar namun dapat juga dari instansi yang melakukan koleksi kultur (Hidayat, 2006).

Dalam keadaan sebenarnya (di alam bebas) boleh dikata tidak ada bakteri yang hidup tersendiri terlepas dari spesies lainya. Kerapkali bakteri pathogen kedapatan bersama-sama bakteri saproba. Yang terakhir ini boleh disebut penyerbu yang membonceng. Mungkin juga bakteri pathogen yang membonceng dan siapa yang di boncengi diberikan pedoman “ siapa yang kedapatan di situ lebih dahulu dan siapa yang datang terkemudian”. Dengan Pengenceran (Lister 1865), dengan penuangan (Robert Koch 1843-1905), dengan penggesekan, dengan mengucilkan satu sel dan dengan inokulasi hewan (Dwidjiseputro, 2005)

Medium yang diharapkan adalah medium yang memungkinkan isolat dapat tumbuh dengan baik dan memberikan penampakan bahan genetik yang maksimum. Rancangan media yang memberikan produk yang baik adalah:

1. Buat kisaran medium dengan nutrient pembatas berbeda (misalnya C, N, P atau O).

2. Untuk tiap tipe nutrein digunakan bentuk-bentuk yang berbeda yang mampu mendukung pertumbuhan.

3. Gunakan polimer atau bentuk kompleks pada nutrein pembatas pertumbuhan.

4. Hindarkan bentuk-bentuk yang cepat diasimilasi, seperti karbon (glukosa) atau nitrogen (NH4+) yang dapat menyebabkan penekanan katabolisme.

5. Pastikan kofaktor yang diketahui ada (Co3+, Mg+2, Mn2+).

6. Gunakan buffer untuk meminimalkan perubahan pH yang terjadi (Hidayat, 2006).

Sifat-sifat umum suatu koloni

a. Besar-kecilnya suatu koloni. Ada koloni yang hanya serupa suatu titik, ada pula yang melebar sampai menutup permukaan medium.

b. Bentuk, ada koloni yang bulat, ada yang memanjang, ada yang tepinya rata, ada yang tepinya tidak rata.

c. Kenaikan permukaan, ada koloni yang rata saja dengan permukaan medium, ada pula yang timbul yaitu, menjulang tebal di atas permukaan medium.

d. Halus-kasarnya permukaan. Ada koloni yang permukaannya halus saja, ada yang permukaannya kasar, tidak rata.

e. Wajah permukaan, ada koloni yang permukaannya mengkilat, ada yang permukaannya suram.

f. Warna, kebanyakan koloni bakteri itu berwarna keputihan atau kekuning-kuningan, akan tetapi ada juga koloni yang kemerah-merahan, coklat, jingga, biru, hijau, ungu.

g. Kepekatan, ada koloni yang lunak seperti lendir, ada lunak seperti mentega, ada yang keras dan kering.

Sifat-sifat khusus suatu koloni dalam medium padat

a. Sifat-sifat koloni pada agar-agar lempengan, bentuk, permukaan, dan tepi. Bentuk koloni dilukisan sebagai titik-titik, bulat, berbenang, tak teratur, serupa kumparan. Permukaan koloni dapat datar, timbul mendatar, timbul melengkung, timbul mencekung, timbul mencembung, timbul membukti, timbul berkawah. Tepi koloni ada yang utuh, ada yang berombak, ada yang berbelah-belah, ada yang bergerigi, ada yang benang-benang, ada yang keriting.

b. Sifat-sifat koloni pada agar-agar miring, sifat-sifat ini berkisar pada bentuk dan tepi koloni, dan sifat-sifat itu dinyatakan dengan kata-kata seperti: serupa pedang, serupa duri, serupa tasbih, serupa titik-titik, serupa batang, serupa akar.

c. Sifat-sifat koloni tusukan dalam gelatin, ada bakteri yang dapat mengencerkan gelatin, ada juga bakteri yang tidak mampu mengencerkan gelatin. Bila dilihat dari samping, maka bentuk-brntuk koloni yang tidak mengencerkan gelatin, dapat serupa pedang, serupa tasbih, bertonjol-tonjol, berjonjot, dan serupa batang (Dwidjoseputro, 2005).

Isolasi Khamir

Teknik goresan yang secara umum digunakan untuk pemurnian bakteri juga digunakan dan sesuai untuk isolasi khamir. Satu metode yang secara luas digunakan oleh ahli khamir adalah dengan mendespresi satu bagian koloni dalam 2 sampai 3 ml air steril, kemudian menggoreskan satu ose suspense ini di atas media agar membentuk goresan zig-zag dari satu sisi ke sisi yang lain.

Jika semua koloni tunggal menampakkan ukuran dan penampakan yang serupa, kultur ini dianggap murni. Perlu dilakukan uji secara mikroskopis atas beberapa koloni tunggal.

Isolasi jamur

Isolasi tergantung pada pengambilan sejumlah kecil sampel hifa atau spora, di anggap murni oleh mata, lensa pembesar, stereomikroskop dan letakkan sampel pada media agar sebagai inokulum titik.

Tempat paling sederhana untuk memulai isolasi jamur adalah media perhitungan dengan sebaran koloni yang baik. Gunakan jarum preparat, sterilkan dengan pemanasan, kemudian dimasukkan ke dalam cawan petri hingga dingin baru kemudian digunakan untuk mengambil spora atau meselium dan inokulasikan. Membebaskan jamur dari bakteri sangatlah sulit kecuali dengan menggunakan antibiotik. Secara umum lebih mudah mengisolasi jamur yang tumbuh cepat dari pada yang lambat. Hifa yang paling luar justru biasanya bebas kontaminasi.

Guna penyimpanan dalam waktu pendek umumnya jamur disimpan pada agar miring yang secra tradisional ditutup kapas, yang secara modern dilakukan dengan menggunakan tabung dan penutupnya yang dapat tetap kering selama penyimpanan. Selama inkubasi, demi pertumbuhan jamur itu, tutup ini harus dikendorkan karena jamur membutuhkan oksigen untuk pertumbuhan dan sporalisasinya (Hidayat, 2006).

Bagi banyak bakteri selama inkubasi 24 jam, satu koloni murni dapat terdiri dari 50-72 generasi sel yang timbul dari satu sel induk tunggal, satu sel murni terdiri dari bermilyar-milyar sel anak. Pertumbuhan bakteri sesungguhnya merupakan pertambahan jumlah sel dan bukan ukuran sel (Hadioetomo, 1983).

Proses pengenceran

BAB III

METODE KERJA

3.1 Alat dan bahan

3.1.1 Alat-alat

1. Rak tabung reaksi

2. Cawan petri

3. Tabung reaksi

4. Bunsen burner

5. Alat tulis

6. Incubator

7. Flow cabinet

8. Botol kosong

9. Pipet tetes

3.1.2 Bahan

1. Alkohol

2. Kapas

3. Larutan NA

4. Larutan PDA

5. Tissue

6. Air sungai Mahakam

7. Aquades

8. Kertas label

3.2 Cara Kerja

3.2.1 Pengenceran bertingkat sampel

1. Sterilkan tangan terlebih dahulu dengan mengguanakan alkohol sebelum melakukan kegiatan.

2. Disiapkan air sungai mahakam sebagai sampel bakteri yang akan diamati.

3. Diambil 3 tabung reaksi yang disumbat kapas dan sudah diberi label 10-1, 10-2, 10-3,. yang sudah diisi setiap tabung dengan aquades sebanyak 9 ml.

4. Diambil tabung 10-1 denga mengunakan tangan kanan.

5. Dibuka sumbat kapas dengan menjepitnya dengan menggunakan jari kelingking dan jari manis pada tangan kiri, dan jari yang lain memegang pipet.

6. Dipanaskan mulut tabung reaksi dengan menggunakan Bunsen burner (lakukan hal yang sama setiap membuka sumbat tabung reaksi).

7. Diambil 1 pipet air sungai Mahakam, kemudian dimasukkan kedalam tabung 10-1.

8. Dilakukan penghomogenan dengan cara mempipet campuran larutan berulang-ulang sebanyak 10 X.

9. Kemudian diambil 1 pipet dari campuran di dalam tabung 10-1 dan tutup kembali sumbat, setelah itu dimasukkan kedalam tabung reaksi 10-2.

10. Dilakukan penghomogenan dengan cara mempipet campuran larutan berulang-ulang sebanyak 10 X.

11. Kemudian diambil 1 pipet dari campuran di dalam tabung 10-2 dan tutup kembali sumbat dengan rapat, setelah itu dimasukkan kedalam tabung reaksi 10-3.

12. Dilakukan penghomogenan dengan cara mempipet campuran larutan berulang-ulang sebanyak 10 X.

3.2.2 Pembuatan biakkan bakteri pada medium NA

1. Diambil cawan petri yang sudah disterilisasikan, kemudian dibuka kertas pembungkusnya.

2. Kemudian dipanas-panaskan pada Bunsen burner.

3. Diambil larutan NA yang sudah disterilisasi.

4. Dibuka sumbat dan almunium foilnya, kemudian dipanaskan mulut Erlenmeyer dengan menggunakan Bunsen burner.

5. Setelah itu dituangkan larutan NA pada cawan petri yang steril.

6. Kemudian ditutup lagi dengan rapat mulut Erlenmeyer, setelah itu tutup cawan petri.

7. Kemudian diambil 1 ml dengan pipet dari campuran larutan di dalam tabung 10-3 dan tutup kembali sumbat dengan rapat.

8. Setelah itu teteskan pada cawan petri yang berisi larutan NA.

9. Dihomogenkan dengan cara menggerakkan atau menggeser cawan petri membentuk angka 8 dengan perlahan-lahan.

10. Setelah itu dilakukan inkubasi selama 24 jam di dalam incubator dengan suhu 400C.

11. Setelah 24 jam dilakukan pengamatan terhadap bakteri yang tumbuh pada media dan digambar sebagi pertimbangan.

3.2.3 Pembuatan Biakkan Jamur pada Medium PDA

1. Diambil cawan petri yang sudah disterilisasikan, kemudian dibuka kertas pembungkusnya.

2. Kemudian dipanas-panaskan pada Bunsen burner.

3. Diambil larutan PDA yang sudah disterilisasi.

4. Dibuka sumbat dan almunium foilnya, kemudian dipanaskan mulut Erlenmeyer dengan menggunakan Bunsen burner.

5. Setelah itu dituangkan larutan PDA pada cawan petri yang steril.

6. Kemudian ditutup lagi dengan rapat mulut Erlenmeyer, setelah itu tutup cawan petri.

7. Kemudian diambil 1 ml dengan pipet dari campuran larutan di dalam tabung 10-3 dan tutup kembali sumbat dengan rapat.

8. Setelah itu teteskan pada cawan petri yang berisi larutan PDA.

9. Dihomogenkan dengan cara menggerakkan atau menggeser cawan petri membentuk angka 8 dengan perlahan-lahan.

10. Setelah itu dilakukan inkubasi selama 48 jam di dalam incubator dengan suhu 370C.

11. Setelah 48 jam dilakukan pengamatan terhadap bakteri yang tumbuh pada media dan digambar sebagi pertimbangan.

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

4.2 Pembahasan

Prinsip percobaan pada praktikum isolasi bakteri dan jamur ini adalah untuk mengisolasi mikroba (bakteri dan jamur) yang ada pada sampel yang dibawa dengan cara menanamkan mikroba (bakteri dan jamur) tersebut ke dalam media NA (untuk bakteri) dan media PDA (untuk jamur), sebelum dilakukan isolasi terhadap bakteri dan jamur dilakukan terlebih dulu pengenceran bertingkat terhadap sampel dalam akuades sampai 10-3 (3× pengenceran) kemudian diambil 1 ml dari sampel dan dimasukkan dalam cawan petri yang sudah diisi dengan media PDA dan NA, lalu di inkubasi selama 24 jam untuk media NA dengan suhu 400C dan 48 jam untuk media PDA dengan suhu 370C, setelah diinkubasi lalu dilakukan pengamatan dan identifikasai terhadap bakteri dan jamur yang tumbuh di dalam setiap medium. Hal ini didasar dengan tujuan untuk mendapatkan sebuah biakkan yang murni, tanpa ada mikroba lain yang tidak kita inginkan ikut tumbuh, sehingga perlu dilakukan isolasi.

Pengenceran bertingkat ini bertujuan untuk memperecil atau mengurangi mikroba yang tersupsensi dalam cairan (pada sampel), sehingga dimungkinkan hanya satu sel mikroba saja yang didapat. Penentuan besarnya atau banyaknya tingkat pengenceran tergantung pada perkiraan jumlah mikroba dalam sampel. Perbandingan yang digunakan dalam pengeceran adalah 1:9 untuk sampel dan pengenceran pertama dan selanjutnya, sehingga pengenceran berikutnya mengandung 1/10 (10-3) sel mikroorganisme dari pengenceran sebelumnya.

Bakteri lebih cepat berkembang daripada jamur, hal ini dikarenakan bakteri memperbanyak diri dengan cara membelah diri, sehingga hanya membutuhkan waktu ± 24 jam untuk berkembang, sedangkan jamur berkembang biak dengan spora, sehingga jamur membutuhkan waktu yang lebih lama untuk membentuk spora ± 48 jam sampai spora pecah membentuk hifa.

Perkembangbiakkan bakteri dipengaruhi beberapa faktor, yaitu suhu, cahaya, pengeringan (kelembaban), keasaman (pH), pengaruh O2 dari udara, pengaruh tekanan osmotik, pengaruh mikroorganisme disekitarnya, dan pengaruh zat kimia (desintektan) terhadap mikroba.

Bentuk koloni dari mikroba berbeda-beda untuk tiap spesies dan bentuk itu merupakan ciri-ciri khas bagi suatu spesies tertentu. Berat kecilnya koloni, mengkilat tidaknya, halus dan kasarnya permukaan serta warna dari koloni merupakan sifat-sifat yang diperlukan untuk identifikasi suatu spesies. Warna dari mikroba, misalnya bakteri yang baru nampak jelas apabila mikroba itu diamati dalam kelompok. Kebanyakan bakteri memiliki warna keputih-putihan, kelabu, kekuning-kuningan atau hamper bening, tetapi ada beberapa spesies mempunyai pigmen warna yang lebih tegas (Suriawiria, 2005).

Dalam media yang kami buat, media NA diperoleh hanya beberapa jenis mikroba saja yang ada pada sampel air sungai yaitu, punctiform, filamentos, dan cilcular, sedangkan pada media PDA diperoleh irregular, filamentos, spindle, dan circuler. Dari mikroba ini memiliki bentuk permukaan yang masih sama dari setiap media yaitu, berbentuk flat, sedangkan bentuk marginnya berbeda-beda yaitu, circulate, convex, entire, lobate, dan filamentos. Hal ini sesuai dengan tingkat perkembang dari masng-masing mikroba tersebut yang juga berbeda-beda.

Warna bakteri yang kami temukan tidak begitu bervariasi ada keputih-putihan, kelabu serta hampir bening. Bakteri berlendir dimana lapisan lendir terdiri dari karbohidrat. Pada beberapa spesies tertentu, lendir ini mengandung unsure nitrogen atau fosfor. Lapisan lendir bukan merupakan bagian integral dari sel, melainkan suatu hasil pertukaran zat. Lendir memberikan perlindungan terhadap kekeringan, seolah-olah merupakan suatu benteng untuk bertahan terhadap faktor lingkungan.

Pada media PDA banyak ditumbuhi jamur daripada media NA karena pada media PDA terkandung karbohidrat, yang sangat baik untuk pertumbuhan jamur, sedangkan bagi bakteri media yang mengandung karbohidrat sangat mengahambat perkembangan dari bakteri.

Faktor-faktor kesalahan yang bias terjadi yaitu:

a. Kesalahan dan kurang teliti dalam proses sterilisasi, hal ini dapat mengakibatkan sampel atau media yang digunakan bisa terkontaminasi oleh mikroba lain yang tidak diinginkan.

b. Tangan yang belum disterilkan dengan mengguankan alkohol, bisa membuat media, sampel dan alat yang digunakan terkontaminasi.

c. Berbicara pada saat pengeceran atau penanaman, karena udara bias membawa mikroba masuk kedalam media atau sampel.

d. Kesalahan dalam penuangan media yang digunakan, praktikan harus hafal yang mana larutan NA dan yang mana PDA, sehingga tidak ada yang salah menggunaka media.

e. Kesalahan dalam pengitungan dan pengamatan mikroba yang kurang teliti, sehingga mempengaruhi hasil pengamtan.

f. Kurang hati-hati dalam menghomogenkan media ketika dituangkan dalam cawan petri, bias menyebabkan media tumpah dan bias terkontaminasi.

BAB V

PENUTUP

5.1 Kesimpulan

Dari praktikum kali ini diperoleh sebuah kesimpulan sebagai berikut:

a. Dari hasil yang didapat pada saat pengamatan terhadap air sungai Mahakam diperoleh : 3 mikroba yang berbentuk punctiform berdasar flat bermargin entire, 3 mikroba berbentuk filamentos bentuk dasar flat dan bermargin lobate (media NA), sedangkan media PDA, 2 buah irreguler dengan bentuk permukaan flat dan bermargin circulate, 10 buah berbentuk filamentos berpermukaan convex dan bermargin filamentos, 1 buah spindle dengan permukaan flat dan margin entire dan 9 buah circulate dengan permukaan f;at bermagin entire.

b. Penggunaan Bunsen sebagai pemanasan adalah untuk mensterilkan permukaan alat yang akan digunakan, agar terbebas dari mikroorganisme lain yang bisa mengkontaminasi media atau sampel kita.

c. Karena pada bakteri proses perbanyakan selnya lebih cepat yaitu, 24 jam dibandingkan dengan jamur yang membutuhkan waktu 48 jam, karena harus membentuk spora sehimgga membuthkan waktu lama.

5.2 Saran

Praktikum selanjutnya agar bias mengganti bahan air sungai Mahakam dengan air kemasan seperti teh gelas (mountea).

DAFTAR PUSTAKA

Dwidjoseputro, D. 2005. Dasar-Dasar Mikrobiologi. Djambatan: Jakarta.

Hadioetomo, Ratna S. 1983. Mikrobiologi Dasar dalam Praktek. Gramedia: Jakarta.

Hidayat, Nur. Masdira. C. P. Sri. S. 2006. Mikrobiologi Industri. Penerbit ANDI: Yogjakarta.

Suriawiria, Unus. 2005. Mikrobiologi Dasar. Papas Sinar Sinarti: Jakarta.